Yogyakarta, dengan karakteristik pemukiman padat penduduk yang tersebar di wilayah perkampungan tua, seringkali menghadapi masalah serius terkait sistem pembuangan air hujan dan limbah rumah tangga. Saluran air yang sempit, mampet akibat sampah, dan sedimentasi yang tinggi menjadi penyebab utama terjadinya genangan air yang berbau dan menjadi sarang penyakit. Menjawab permasalahan ini, HAKLI Kota Jogja menginisiasi program Eco Drain, sebuah konsep drainase ramah lingkungan yang mengedepankan prinsip konservasi air sekaligus menjaga kebersihan lingkungan pemukiman agar tetap layak huni dan sehat secara saniter.
Program ini difokuskan pada upaya revitalisasi saluran air yang selama ini terbengkalai di kawasan-kawasan bersejarah. Berbeda dengan sistem drainase konvensional yang hanya bertujuan mengalirkan air secepat mungkin ke sungai, sistem ini mengintegrasikan lubang biopori dan sumur resapan di sepanjang saluran untuk memaksimalkan infiltrasi air ke dalam tanah. Di wilayah Jogja, keterlibatan aktif warga dalam menjaga saluran dari sampah menjadi kunci keberhasilan program ini. Tenaga sanitarian dari HAKLI memberikan bimbingan teknis mengenai desain saluran yang mudah dibersihkan dan memiliki estetika visual, sehingga tidak lagi dianggap sebagai “tempat sampah panjang” oleh masyarakat sekitar.
Penerapan konsep ramah lingkungan pada perkampungan tua menuntut kreativitas tinggi karena keterbatasan lahan yang tersedia. Penggunaan material berpori dan tanaman air penyaring polutan (fitoremediasi) di beberapa titik saluran membantu mengurangi beban pencemaran limbah cair domestik sebelum masuk ke badan air yang lebih besar. Hal ini sangat penting untuk menjaga kualitas air tanah di Yogyakarta yang masih banyak digunakan oleh warga melalui sumur dangkal. Inovasi dari HAKLI ini membuktikan bahwa teknologi kesehatan lingkungan tidak harus mahal, melainkan harus tepat guna dan berbasis pada partisipasi komunitas lokal yang kuat.
Secara operasional, revitalisasi ini juga berdampak langsung pada penurunan angka penyakit berbasis lingkungan seperti demam berdarah dan penyakit kulit di kawasan padat. Dengan saluran air yang lancar dan bersih, kelembapan udara di sekitar rumah warga menjadi lebih terjaga dan tidak lagi menjadi tempat favorit bagi nyamuk untuk berkembang biak. Warga di Jogja mulai merasakan manfaat ekonomi dan sosial dari lingkungan yang bersih, di mana lorong-lorong kampung kini menjadi lebih asri dan sering dijadikan ruang interaksi sosial yang sehat. Perubahan wajah kampung melalui manajemen air yang benar adalah langkah nyata menuju kota yang resilien terhadap perubahan iklim dan risiko kesehatan.