Pembangunan desa yang berkelanjutan kini menemukan momentumnya melalui ekowisata berbasis lokal. Strategi Pembangunan Desa yang berpusat pada ekowisata mengedepankan prinsip konservasi alam, pelestarian budaya lokal, dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara inklusif. Strategi Pembangunan Desa ini memastikan bahwa daya tarik alam, seperti hutan adat, sungai yang jernih, atau sawah terasering, menjadi aset utama yang harus dilindungi, bukan dieksploitasi. Implementasi Strategi Pembangunan Desa yang terpadu ini memerlukan komitmen dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah setempat.
Langkah awal dalam Strategi Pembangunan Desa ekowisata adalah pemetaan potensi dan pembentukan kelembagaan. Pemerintah Desa membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang khusus mengelola sektor pariwisata. Pembentukan BUMDes ini harus diselesaikan pada awal tahun anggaran dan melibatkan perwakilan masyarakat, tokoh adat, serta pemuda lokal. BUMDes bertugas merancang paket wisata, menetapkan tarif, dan memastikan 100% dari keuntungan mengalir kembali kepada masyarakat, misalnya melalui dana konservasi atau pengembangan fasilitas umum.
Strategi kedua adalah penentuan batas daya dukung lingkungan (carrying capacity). Berbeda dengan wisata massal, ekowisata harus menjaga keseimbangan alam. Petugas Dinas Pariwisata Daerah bersama Pemerintah Desa melakukan survei lingkungan untuk menentukan jumlah maksimal wisatawan yang diizinkan berkunjung setiap hari, yang rata-rata ditetapkan tidak lebih dari 50 kunjungan per hari di area sensitif. Pembatasan ini bertujuan untuk Menjaga Hutan Kota atau area alam dari kerusakan akibat kunjungan berlebihan. Untuk menerapkan aturan ini, Petugas Keamanan Desa ditugaskan memantau area wisata setiap Hari Sabtu dan Minggu.
Strategi ketiga adalah penguatan homestay dan kuliner lokal. Akomodasi wisatawan didorong menggunakan homestay yang dikelola langsung oleh warga, bukan oleh investor asing atau luar daerah. Pelatihan kebersihan, sanitasi, dan penyajian makanan yang aman diberikan kepada ibu-ibu PKK oleh Dinas Kesehatan setempat setiap triwulan. Pelatihan ini memastikan standar Gizi Seimbang dan kebersihan terpenuhi, sambil mempertahankan keaslian budaya dan kuliner lokal. Dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek utama, ekowisata menjadi model Ekonomi Sirkular yang berhasil melestarikan lingkungan sambil menyejahterakan rakyat.