Inovasi yang sedang dikampanyekan secara luas ini adalah pembuatan Eco Enzim. Cairan ini dihasilkan dari proses fermentasi sisa kulit buah dan sayuran yang dicampur dengan gula merah atau molase serta air. Melalui proses selama tiga bulan, limbah organik tersebut akan berubah menjadi cairan berwarna cokelat gelap dengan aroma asam segar yang khas. Keberhasilan inovasi ini menjadi viral di media sosial karena kemampuannya dalam menetralisir polutan dan kuman. Banyak warga Jogja yang kini mulai mempraktikkannya di rumah masing-masing karena bahan bakunya sangat mudah didapat dan proses pembuatannya tidak memerlukan alat yang canggih atau mahal.
Salah satu manfaat yang paling dirasakan oleh masyarakat adalah kemampuan cairan ini sebagai solusi sampah dalam mengatasi masalah sanitasi. Cairan fermentasi ini mengandung asam asetat dan enzim alami yang mampu membunuh bakteri patogen serta mengurai molekul penyebab bau. Dengan menyemprotkan larutan ini ke area tempat sampah atau saluran air, warga dapat secara efektif menghilangkan bau busuk yang biasanya mengganggu kenyamanan lingkungan. Lebih dari itu, jika komposisi buah yang digunakan didominasi oleh kulit jeruk atau serai, aroma yang dihasilkan justru menjadi sangat menyegarkan dan dapat berfungsi sebagai pembersih udara alami yang menenangkan.
Selain untuk menghilangkan aroma tidak sedap, HAKLI juga menjelaskan bahwa cairan ini memiliki fungsi sebagai Eco Enzim dan pembersih lantai organik yang jauh lebih aman dibandingkan bahan kimia pabrikan. Penggunaan bahan alami ini sangat disarankan untuk menjaga keseimbangan ekosistem mikro di dalam rumah. Cairan ini tidak menyebabkan iritasi pada kulit dan residunya yang mengalir ke selokan justru akan membantu membersihkan perairan dari zat kimia berbahaya. Dengan mengadopsi gaya hidup ini, masyarakat Yogyakarta turut berkontribusi dalam mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian hari kian penuh dengan sampah organik yang tidak terolah.
Edukasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan lingkungan ini bertujuan untuk membangun kemandirian masyarakat dalam mengelola limbah domestik. Dengan mengubah pola pikir bahwa sampah adalah aset, bukan beban, maka kelestarian lingkungan di Kota Pelajar ini akan tetap terjaga. Setiap tetes cairan yang dihasilkan adalah bukti kepedulian warga terhadap bumi. Mari kita mulai memilah sampah dari dapur kita sendiri dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Langkah kecil ini, jika dilakukan secara kolektif, akan memberikan dampak besar bagi kesehatan lingkungan dan kenyamanan hidup bersama di masa depan.