Pertumbuhan industri kreatif di sektor kuliner berskala kecil dan menengah telah menjadi tulang punggung ekonomi bagi banyak keluarga, namun aspek standarisasi kesehatan sering kali masih menjadi tantangan yang perlu dibenahi. Menjamin keamanan pangan UMKM bukan hanya soal rasa dan kemasan yang menarik, melainkan juga tentang transparansi kandungan nutrisi yang dikonsumsi oleh masyarakat luas. Sebagai kota pendidikan dan budaya, para ahli kesehatan lingkungan berupaya menjadikan daerah ini sebagai pusat sanitarian jogja yang memberikan edukasi teknis bagi para pelaku usaha. Fokus utama sosialisasi ini adalah mengenai cara mencantumkan label yang akurat serta penyajian informasi nilai gizi yang sesuai dengan standar kesehatan bagi produk makanan di Jogja.
Pencantuman informasi nilai gizi (ING) pada label kemasan berfungsi untuk memberikan edukasi kepada konsumen mengenai jumlah kalori, lemak, protein, karbohidrat, serta kadar natrium yang terkandung dalam satu porsi produk. Bagi pelaku UMKM, hal ini sering kali dianggap sebagai beban administratif yang rumit, padahal transparansi nutrisi merupakan bentuk tanggung jawab moral produsen terhadap kesehatan pelanggan. Dalam workshop yang diadakan, para pelaku usaha diajarkan metode perhitungan kandungan gizi secara mandiri melalui tabel referensi bahan pangan atau dengan bantuan uji laboratorium skala kecil. Dengan informasi yang jelas, konsumen yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti penderita diabetes atau hipertensi, dapat memilih produk yang aman bagi kebutuhan diet mereka.
Selain aspek transparansi, label yang mencantumkan informasi gizi secara lengkap juga meningkatkan daya saing produk UMKM di pasar yang lebih luas, seperti minimarket atau toko oleh-oleh premium. Di Jogja, di mana persaingan produk makanan sangat ketat, kepercayaan konsumen menjadi modal utama. Produk yang memiliki izin edar dan label nutrisi yang benar akan dipandang lebih profesional dan tepercaya dibandingkan produk tanpa informasi yang jelas. Edukasi ini juga mencakup teknis penulisan label agar mudah dibaca, mulai dari pemilihan ukuran font hingga penempatan tabel gizi yang strategis pada kemasan produk tanpa mengganggu estetika desain visualnya.