Guncangan gempa bumi yang kuat sering kali merusak struktur dinding sumur gali maupun sumur bor milik warga di pedesaan. Masuknya endapan lumpur pekat dan runtuhan material membuat sumber air baku warga berubah menjadi keruh dan tidak bisa dimanfaatkan. Pemulihan sarana pemurni air warga menjadi prioritas utama tim sanitarian agar kebutuhan pasokan air minum harian kembali normal.
Penerapan teknik pengurasan mekanis dilakukan dengan menguras habis air tercemar menggunakan mesin pompa bertenaga tinggi dari dasar sumur. Petugas kesehatan lingkungan turun langsung memastikan bagian dasar galian bebas dari endapan sisa runtuhan batu maupun sampah organik. Pembilasan dilakukan berulang kali hingga aliran air baru yang keluar dari akuifer tanah kembali terlihat jernih.
Setelah proses pengurasan fisik selesai, penanganan desinfeksi kimiawi segera diterapkan menggunakan larutan kaporit berdosis aman terukur. Proses klorinasi ini bertujuan membunuh bakteri patogen yang sempat berkembang biak saat sumur dalam kondisi tercemar lumpur. Pengendapan dan pendiaman air dilakukan selama beberapa jam sebelum air sumur dinyatakan aman untuk dipakai kembali.
Metode pengurasan dan sterilisasi ini mempraktikkan panduan pembersihan sumur warga tercemar endapan lumpur dan material reruntuhan pascagempa. Pemulihan fungsi sumur warga mengurangi ketergantungan masyarakat pada pasokan air bantuan tangki yang terbatas jumlahnya. Kembalinya fungsi sumber air lokal mempercepat pemulihan kemandirian kebutuhan harian warga di pedesaan.
Pengujian laboratorium portabel dilakukan pada sampel air sumur yang telah dibersihkan untuk menguji parameter kejelasan dan klorin sisa. Setelah hasil laboratorium menunjukkan nilai aman, sumur diserahterimakan kembali kepada pemilik rumah untuk dapat dimanfaatkan. Petugas juga mengedukasi warga tentang cara pemeliharaan kebersihan bibir sumur agar terhindar dari kotoran permukaan.
Restorasi sarana air bersih milik masyarakat menjadi wujud bakti nyata tenaga kesehatan lingkungan di daerah terdampak bencana. Terpenuhinya kebutuhan air sehat secara mandiri mengembalikan optimisme warga untuk menata kembali kehidupan mereka pascamusibah. Kerja keras ini terus dilanjutkan hingga seluruh sumur warga yang rusak selesai dinormalisasi.